Masukan dari Juli 2007
Senin, 23 Juli 2007 · & Komentar
Bulan Juli ini adalah saat orang tua dipusingkan dengan pembayaran sekolah. Kesibukan di tingkat PG dan TK tidak kalah memusingkan. Pembayaran sekolah untuk tingkat ini bervariasi dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah.
Yayasan Pendidikan Islam Ruhama yang terletak di jl Taruma Negara, Cireundeu, Pondok Cabe memiliki sekolah dari tingkat TK hingga SMU. Biaya pembayaran pertama di TK Ruhama adalah 900 ribu. Iuran bulanan sebesar 150 ribu.
Rausan Fikr baru menempati gedung baru milik sendiri yang berada tepat di belakang perumahan Bukit Moderen, Pondok Cabe. Pembayaran pertama untuk kelas Taman Bermain (atau playgroup – PG) sebesar 2,5 juta rupiah. Dengan iuran bulanan 150 ribu rupiah.
Yayasan Pendidikan Al Fath yang berada di jalan raya Cireundeu, Pondok Cabe termasuk sekolah elit di daerah selatan. Sekolah yang dilengkapi fasilitas kolam renang ini kabarnya mematok 13 juta rupiah untuk pembayaran pertama.
Memang jika dibandingkan dengan sekolah yang lebih terkenal, apalagi sekolah internasional, angka angka ini sangatlah kecil. High/Scope yang berada di jl TB Simatupang, kabarnya mematok harga 40 juta rupiah untuk tingkat TK. Tapi apakah angka jutaan rupiah ini layak untuk sekolah setingkat TK atau PG? Benarkah anak kita akan mendapatkan yang lebih baik? Atau jangan jangan yayasan hanya menjadikan orang tua murid TK atau PG sebagai sapi perahan yang akan membayar berapa saja untuk pendidikan anak mereka?
Tulisan ini memang hanya didasarkan pada obrolan minggu sore di taman depan rumah. Bukan dari hasil penelitian berbulan bulan atau survei lapangan. Apalagi cakupannya hanya sekolah sekolah disekitar lingkungan saya saja.(ir/wp)
Kategori: Keluarga
Senin, 16 Juli 2007 · & Komentar
Dilingkungan saya, gelaran 17an atau agustusan sudah dimulai. Sabtu-minggu lalu beberapa pertandingan sudah dimulai meski bulan Juli baru melewati minggu ke dua. Ini lebih karena pesertanya adalah pekerja yang hanya dirumah ketika malam dan akhir pekan saja, sedangkan acara yang disiapkan teman teman di RW 10 lumayan banyak.
Karena kebisaan saya hanya main voli, Sabtu sore kemarin saya turun ke lapangan untuk melawan RT 04. Ini adalah pertama kalinya saya bermain voli sejak sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu. Ya, betul. Sudah lama sekali saya tidak bermain sejak bermain di Pekan Olahraga Mahasiswa di Bandung pas jaman sekolah. Beberapa tahun lalu saya memang ke lapangan voli, bukan untuk bermain tapi menonton final Proliga di Istora.
Tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu, apalagi untuk melenturkan kembali otot yang kaku, langsung jumpalitan dilapangan. Babak pertama terlewati, meski kalah saya masih bersemangat. Memasuki babak kedua, kelelahan menjalar keseluruh badan. Saya lebih sering membungkuk sambil mengatur napas yang ngos ngos-an. Paha kaki mulai sakit semua. Telapak tangan berasa panas dan memerah. Maklum sejak di Jakarta tidak pernah lagi namanya menggerakkan badan. Jangankan bertanding di lapangan, jogging saja malas sekali. Hanya sekali sekali saja berenang kalau pas nganter Agi, itupun hanya sekali putaran karena jantung rasanya sudah minta berhenti.
Babak kedua kami masih harus mengaku kalah dari tim lawan. Di babak ketiga, ketika kami mulai menemukan pola permainan, tenaga saya benar benar terkuras habis. Meski akhirnya memenangi babak ketiga, saya memilih berhenti saja ketika babak keempat akan dimulai. Dengan alasan Agi menangis dan mengajak pulang, saya langsung pulang. Sampai dirumah, saya hanya sanggup terkapar di teras depan.
Hari Minggu, rasa pegal masih terasa di paha dan lengan saya. Maka sayapun menolak ajakan untuk bermain sepak bola melawan RT 06. Senin pagi, ternyata rasa pegalnya tidak juga hilang bahkan lutut semakin sulit ditekuk. Apalagi tadi pagi harus naik 5 lantai melalui tangga karena lift sedang di perbaiki. ugh. (ir/wp)
Kategori: Pribadi
Senin, 16 Juli 2007 · & Komentar
Ada banyak tipe preschool. Ada yang fokus pada kemandirian anak ada pula yang sangat terstruktur dan rutin. Tipe tipe ini bukan suatu harga mati, karena anak bisa bersekolah di tipe apapun asalkan dia senang. Tujuan anak bergabung dengan preschool adalah agar dia bisa menghabiskan waktunnya dengan teman temannya sambil belajar.
Amerika
Di Amerika, ada beberapa tipe preschool. Yang populer diantaranya Montessori, High/Scope, Waldorf, Bank Street.
(lagi…)
Kategori: Keluarga
Senin, 9 Juli 2007 · & Komentar
Orangtua dengan anak usia 2-4 tahun mungkin mulai bertanya tanya. Apakah anaknya akan didaftarkan ke taman bermain atau kelompok bermain (KB) atau playgroup (PG) sekarang atau tahun depan. Sekolah untuk anak usia ini tergolong sebagai pendidikan anak usia dini (PAUD) sehingga tidak ada batasan jelas usia anak sekolah untuk memulainya. Beberapa sekolah bisa menerima anak anak dengan usia 2,5 tahun beberapa sekolah lain tidak memberikan persyaratan umur.
Perkembangan fisik, sosial, emosi anak lebih menentukan kesiapannya untuk memulai KB. Karena mulai belajar di KB berarti anak sudah mulai harus disiplin untuk datang ke sekolah, mengikuti program sekolah yang terstruktur dan belajar dengan anak anak yang lain. Sebagian dari kita merasa bahwa anak sudah cukup siap untuk KB karena kita beranggapan dia sudah bisa melakukan ini dan itu.
Patricia Henderson Shimm, dari Barnard College Center for Toddler Development memberikan panduan untuk melihat kesiapan anak memulai KB.
(lagi…)
Kategori: Keluarga
Sabtu, 7 Juli 2007 · & Komentar
Beberapa bulan lalu saya mendapatkan kiriman 5 buah cd Ubuntu plus 5 sticker. Padahal saya hanya mengisi nama dan alamat saja tanpa membayar biaya apapun lagi. Kecuali ongkos re-pack dari kantor Pos, mengherankan juga kenapa musti bayar ongkos ini padahal paket diterima dalam amplop bersegel Ubuntu dan tidak ada amplop ataupun kantong dari kantor pos.
Seorang rekan kerja, yang biasa di lingkungan Windows, heran dengan kejadian ini. Bagaimana bisa, saya dan ribuan (atau bahkan jutaan) orang dapat meminta cd Ubuntu secara cuma cuma tanpa membayar apapun. Darimana Ubuntu membeli cd kosong, membayar pekerjanya untuk menduplikat cd dan membayar ongkos kirim yang bahkan ke seluruh dunia. Saya jelaskan padanya, bahwa perusahaan yang berbasis open source umumnya menjual jasa. Mereka menjual jasa training atau dukungan teknis atas produk open source. Jadi produknya sendiri diberikan secara cuma cuma dan mereka mendapatkan uang dari layanan jasanya. Sebagai akhir perbincangan saya berikan sebuah cd Ubuntu (dan stiker) kepadanya. Dia masih ragu untuk menginstal Ubuntu tapi beberapa minggu kemudian saya melihat dia sedang menginstal mySQL dan PHP di XP-nya.
Seorang teman yang lain bercerita. Dia, yang kebetulan masih mahasiswa, bercerita bahwa dia baru mendapatkan sebuah cd Linux dari dosennya. Yang dia lakukan hanya menulis nomor mahasiswa dan nama diselembar kertas. Lalu si dosen dengan senang hati menggandakan cd Linux dan membagikannya kepada mahasiswanya. Lagi lagi secara cuma cuma.
Seorang mahasiswa semester 3 datang kepada saya. Dia bingung bagaimana menghabiskan liburan semesterannya. Saya tanyakan kepadanya, apakah sudah pernah pakai linux. Dia menjawab, pernah dengar tapi belum pernah pakai. Saya berikan sebuah cd Ubuntu (dan stiker) kepadanya. Dia senang bukan kepalang, tapi bingung harus mulai darimana. Beberapa minggu kemudian dia bertanya, bagaimana seting PHP agar bisa membaca database mySQL.
Semangat inilah yang saya sukai dari komunitas opensource. Semangat untuk berbagi pengetahuan, ilmu dan pengalaman. Kita percaya bahwa knowledge is power. Tapi pengetahuan bukan untuk disimpan sendiri dilemari besi lalu digembok dan gemboknya dibuang, tapi dengan saling berbagi kita menjadi lebih kuat. Saya jadi ingat sebuah quote dari #indolinux, ongkos untuk menginstal Linux adalah sepiring gorengan dan sebungkus rokok. Btw, #indolinux@dal.net dan #indolinux@ef.net masih ada tidak ya’?
Kategori: Teknologi Informasi