Memilih Lokasi Data Center Yang Ideal

Dari buku Data Center Fundamentals , terbitan Cisco System, dikatakan bahwa data center harus memenuhi syarat scalability, flexibility, dan high availability. Scalability, berarti data center harus mendukung pertumbuhan yang cepat tanpa menimbulkan gangguan. Pertumbuhan bisa saja database yang semakin besar, transaksi yang semakin tinggi hingga permintaan bandwidth yang besar. Flexibility, berarti data center harus mendukung adanya layanan atau aplikasi baru tanpa memerlukan penggantian infrastrukturnya. High availability, data center harus selalu tersedia, tidak memberikan kesempatan atas suatu failure dan memberikan waktu uptime yang bisa dijamin.

Pemilihan lokasi data center juga menjadi isu penting terkait dengan keberlangsungan operasi perusahaan. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,

Gunung Berapi dan Aktifitas Seismik
Gunung api yang masih aktif bisa memuntahkan lahar atau debu panas sewaktu waktu. Daerah di sekitar gunung api aktif juga lebih sering mengalami gempa bumi vulkanik dibanding daerah di pesisir. Bagi kita yang tinggal di indonesia yang terkenal sebagai daerah ring of fire, mungkin sudah biasa dengan gempa gempa kecil ataupun besar. Jika kita mencari tempat untuk data center lebih baik dipelajari dulu peta seismik dan aktifitas vulkaniknya. Peta ini bisa dilihat ke BMG atau ke USGS. Kita tentu tidak akan membuat data center di Kali Adem, Merapi, Magelang yang bahkan bungkernya hancur ketika terjadi muntahan lahar panas pada pertengahan 2006 kemarin.

Tapi bagaimana jika lokasi data center kita sudah terlanjur dibangun di daerah yang sering gempa? Solusinya adalah dengan memperkecil kerusakan misalnya dengan raised floor, atau jika server kita lebih banyak model yang standing desktop, jangan letakkan server ini diatas meja tapi langsung di lantai agar ketika terjadi gempa server tidak jatuh dan rusak. Selain itu, buatlah ruang lebih diantara perangkat perangkat kita sehingga ketika gempa terjadi mereka bisa bergeser bebas dan tidak membentur perangkat lain. Jika memang ingin lebih bullet-proof, kita bisa memesan rack dan mengikat seluruh perangkat kita di rack server, sehingga ketika gempa terjadi perangkat tetap pada tempatnya.

Banjir
Banjir bisa terjadi di daerah sekitar aliran sungai (DAS), daerah pinggir pantai (rob), daerah penampungan air (dam, waduk, rawa). Setelah banjir besar di Jakarta Pebruari 2002 dan Pebruari 2007 kemarin, kita bisa memetakan daerah daerah jakarta yang rawan banjir. Daerah daerah disekitar aliran sungai Ciliwung dan Pesanggrahan tentu tidak direkomendasikan. Kita tidak akan bangun data center di Kampung Melayu, kan?
Daerah pinggir pantai juga rawan genangan air (rob). Kota Semarang terkenal dengan air rob-nya, daerah pesisir utara Semarang hampir tiap minggu terendam air, bahkan kita bisa lihat bandara Adi Sumarmo pun bersebelahan dengan pantai. Kita tentu tidak ingin tiap minggu mengepel data center karena rob air laut Semarang.

Daerah disekitar dam, waduk, bendungan atau rawa juga bukan daerah aman. Bisa saja karena curah hujan yang tinggi rawa menjadi meluap atau dam, waduk, bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air yang besar. Kecuali jika lokasi kita berada diposisi lebih tinggi dari dam, waduk, bendungan dan rawa.

Bagaimana jika kita terlanjur mempunyai data center di Semarang atau di Kampung Melayu? Solusinya adalah memindahkan data center ke ruang yang lebih atas. Sehingga ketika air datang hanya akan merendam lantai dasar sedangkan data center di lantai atas tetap aman. Tapi ingat, bahwa semakin kita ke atas, gaya tarik bumi semakin kuat sehingga perangkat menajdi lebih berat. Untuk itu pastikan bahwa lantai ditopang oleh konstruksi yang cukup kuat untuk menahan seluruh perangkat yang kita punya.

Kebakaran
Menempati gedung tua memang artistik, tapi ada bahaya dibalik itu. Gedung tua memiliki instalasi listrik yang juga tua. Kalau instalasi listriknya belum pernah dilakukan perombakan atau penggantian, maka kemungkinan adanya korsleting listrik akan besar atau kemungkinan terbakarnya kabel karena beban yang melewati melebihi kemampuan kabel. Untuk itu, jika kita menginginkan membuat data center di bangungan yang sudah tua, pastikan bahwa instalasi listriknya masih mampu melewatkan beban yang dialirkan ke data center. Atau jika perlu lakukan perombakan total atas instalasi listriknya, sehingga kita bisa mendesain ulang instalasinya sesuai dengan kebutuhan kita.

Pastikan juga agar detektor kebakaran dan alat pemadam kebakaran tersedia dilokasi, ini berlaku untuk data center yang menempati gedung tua maupun gedung baru.

Interferensi Elektromagnetik
Interferensi bisa ditimbulkan oleh menara BTS seluler, jaringan SUTET(Saluran Tegangan Ekstra Tinggi). Loncatan listrik yang ditimbulkan oleh busi kendaraan juga bisa menimbulkan gangguan elektromagnetik. Gangguan ini akan berefek kepada perangkat komunikasi data kita yang menggunakan radio misalnya VSAT ataupun broadband wireless. Solusi untuk gangguan interferensi ini adalah dengan menempatkan antena VSAT dan broadband wireless di tempat yang sepi, jauh dari keraimaian dan tinggi (diatap gedung).

Daerah Konflik
Lokasi data center juga terkait dengan politik dan stabilitas. Pada daerah daerah konflik tidak ada jaminan ketersediaan listrik, jaringan komunikasi dan sumber daya manusia. Jangan sampai kita sudah investasi data center mahal akhirnya tidak bisa digunakan karena pln pencatu listrik kita mati, atau tidak ada spbu yang menjual bahan bakar untuk menjalankan genset cadangan kita. Atau bahkan gedung data center kita menjadi korban kerusuhan. Kita tentu tidak berangan untuk membangun data center di Poso yang saat ini tengah ada konflik, bahkan data center bank daerahnya pun juga harus dipindah ke Jakarta.

Transportasi
Setelah mempertimbangkan masalah keamanan, dan gangguan dari faktor faktor sebelumnya kita pun akhirnya memutuskan untuk membangun data center di Alas Roban. Tapi bagaimana tim ti kita bisa mencapai kesana? Apakah mereka harus berkedaraan 10 jam dari Jakarta, lalu masih harus naik ojek masuk hutan yang lebat dan diakhiri dengan pendakian 3 bukit hanya untuk mencapai data center kita? Rasanya tidak bijak juga membangun data center di daerah pegunungan ber hutan lebat yang jauh dari mana mana. Kita akan kesulitan sendiri ketika operasional sehari harinya. Perhatikan juga alternatif akomodasi untuk mencapai lokasi. Apakah ada jalan lain selain jalan tol? adakah kendaraan umum yang melewati lokasi kita?

Untuk membaca artikel tentang data center yang ideal bisa dilanjutkan pada tulisan Anjar Priandoyo tentang data center yang ideal.(ir.wp)

Tags:

Iklan

6 responses to “Memilih Lokasi Data Center Yang Ideal

  1. Mau tanya sedikit, Data Centernya masuk kategori Tier berapa ya ?

  2. Saya tidak punya datacenter, ada juga ruang yang tidak lebih luas kamar kos.
    Pembagian tier di datacenter seperti apa ya’??

  3. Ping-balik: Virtualisasi « Indra Riawan

  4. Ping-balik: Pendinginan Datacenter « Indra Riawan

  5. tier pada data center ada tier 1,tier 2, tier 3, tier 4
    semakin tinggi tier akan semakin mumpuni dalam aspek keamanan data

  6. berapa kira2 budget utk data center utk ukuran 4×5 m

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s