Jakarta Lewat Tengah Malam

Pernahkah Anda melintas di jalanan Jakarta sekitar tengah malam? Apa yang Anda lihat? Anda yang pengagum arsitektur akan bilang, gedung dan apartemen sekarang dibuat dengan sangat estetis apalagi jika bagian atas di sorot. Tops. Para penggemar fotografi akan bilang, ini saatnya low-shutter-speed photography. Tinggal naik ke penyeberangan, pasang tripod, setel shutter speed ke low speed, tunggu mobil lewat dan jepret. Excellence. Penggemar drag race akan berpindah ke jalur cepat yang lebar dan berhenti di lampu merah Sarinah. Begitu lampu berwarna hijau, geber gas dalam dalam sampai ke lampu merah HI. Nikmat.

Tidak, saya tidak akan membahas semua kemewahan ini. Saya akan bercerita tentang frame kehidupan Jakarta yang lain. Kemiskinan.

Menjelang tengah malam, sekitar jam 11an, di bawah fly over Karet. Dua orang anak balita tertidur dibawah di tiang penyangga jembatan. Anak yang besar, perkiraan saya 4 atau 5 tahun, dengan kaos lusuh dan tanpa alas kaki menyandarkan badannya ke beton tiang. Kakinya diselonjorkan begitu saja ditrotoar. Yang kecil, mungkin 2 atau 3 tahun, malah tidur tergeletak dilantai. Kepalanya berbantalkan paha si anak yang besar. Tangan kanan anak yang besar memegang kepala si anak yang kecil, sementara tangan kirinya tak mau melepas botol plastik bekas minuman. Bahkan ketika tidurpun dia mengemis.

Anak anak kita pun sedang tidur dirumah. Tapi mereka tidur dengan temaram lampu yang remang. Dengan iringan musik klasik. Sebelum tidur kadang masih dibacakan cerita. Dengan selimut tebal yang untuk mencucinya saja perlu membayar dengan selembar uang lima puluh ribuan.

Jalan Thamrin, selewat Sarinah sekitar jam 2 dini hari. Seorang bapak berjalan dengan menggendong anaknya kearah HI. Si bapak bersendal jepit dengan menenteng tas. Anaknya nampak tidur pulas di bahu sebelah kiri. Wajah si anak nampak kelelehan, entah apa yang mereka lakukan siang harinya. Si anak hanya mengenakan kaos pendek dan celena pendek, padahal jam 2 dini hari.

Didalam mobil, kita pulang dengan ditemani alunan jazz. Jaket hitampun masih menempel dibadan sekedar untuk mengusir dinginnya pendingin udara. Jaket ini sudah seharian tidak kita lepaskan. Padahal ruangan kantor pun tidak dingin, sekedar agar teman teman mengetahui bahwa kita bisa beli Armani.

Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan, jam 4 pagi menjelang adzan subuh berkumandang. Sebuah gerobak terparkir didepan sebuah ruko. Nampak kosong, hanya lonjoran kaki yang menunjukkan bahwa ada seseorang yang sedang tidur di dalam gerobak itu. Sementara di koran kita lihat iklan tempat tidur yang harganya bisa ditukar dengan sebuah rumah sederhana. Ironis.(ir/wp)

Iklan

One response to “Jakarta Lewat Tengah Malam

  1. wah betul mas…kalau lihat anak kecil di jalanan itu, saya teringat anak saya (advayafathin.blogspot.com) di rumah. kasihan mereka…;-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s