Tilang

Seminggu yang lalu saya ketilang ketika hendak ke Roxy. Di jalan Cideng Barat, setelah turun dari flyover Cideng, saya bermaksud lewat Tanah Abang 2 terus ke Musi dan tembus di belakang ITC. Sebenarnya sudah tahu bahwa aturan belok ke kiri jalan terus masih berlaku, apalagi setelah diyakinkan Zalfany di tulisan pak Budi. Setelah yakin bahwa lampu untuk pengatur lalu lintas ke kiri mati, Saya pun berbelok ke kiri. Tidak jauh dari perempatan, sekitar 100 meteran tepat di sebelah Bank Hagakita, 2 buah mobil Carens polisi terparkir di sisi kiri jalan dengan beberapa anggotanya berdiri menghentikan kendaraan yang lewat.

Seorang polisi menghampiri, memberi salam dan menanyakan surat surat. Saya menanyakan kesalahan saya sambil menyiapkan SIM & STNK. Pak Polisi bilang, Saya melanggar lampu merah ke kiri. Saya membeladiri dengan mengatakan lampu untuk pengatur ke kiri mati. Tapi Polisi masih membantah dan mengatakan lampunya menyala serta menyuruh saya untuk memeriksa kesana lagi.

Akhirnya saya menerima salah, padahal masih nggondok juga karena sangat yakin lampu yang ke kiri mati. Polisi menanyakan bagaimana kelanjutannya, Saya bilang silakan ditilang saja. Briptu M. Rofiq (atau Rofig) dari Polsek Gambir, semua informasi ini ada di seragamnya, bergegas ke bagian belakang mobil dengan setengah berteriak mengatakan ada yang mau sidang sambil membawa SIM & STNK.

Beberapa kendaraan yang dihentikan sebelum dan sesudah saya sudah melanjutkan perjalanannya kembali. Mungkin mereka memilih ‘damai’ atau ‘sidang ditempat’ atau ‘nitip sidang’ atau istilah lain yang intinya membayar polisi untuk membebaskan mereka.

Tak lama berselang seorang polisi lain datang kembali dengan SIM, STNK dan surat tilang. Briptu Dedy, juga dari Polsek gambir, lebih sopan dengan menanyakan kembali apakah benar saya mau di tilang saja. Saya katakan sekali lagi bahwa saya ditilang saja. Dengan nada sok akrab, dia kembali bertanya ke saya apakah bisa hadir di pengadilan hari Selasa berikutnya. Saya jawab bahwa saya bisa mengajukan cuti kerja untuk sidang. Akhirnya dia menyerah dan mulai menulis surat tilang di atas kap mesin mobilnya.

Tapi belum sebuah hurufpun tertulis di kertas tilang dia kembali menyela, bahwa uang dendanya 30 ribu dan berhenti menulis. Mungkin maksudnya supaya saya menitip uang denda kepadanya. Saya bertanya balik, bukankah uang denda dibayar di pengadilan setelah di putus hakim. Akhirnya dia meneruskan menulis surat tilang untuk saya. Dia menyakan sidang berikutnya adalah tanggal 12 Juni dengan setengah berteriak ke temannya yang berada di belakang mobil. Mungkin karena jengkel, temannya yang dibelakang menjawab tanggal 19 Juni saja. Belakangan, setelah membaca surat tilang itu, saya baru tahu bahwa jadwal sidang maksimal adalah 14 hari. Tidak lebih.

Akhirnya saya menerima STNK dan surat tilang sedangkan SIM ditahan untuk jadi alat bukti persidangan.
surat-tilang

Memang pernah membaca artikel anonim di internet bahwa kalau ketilang mintalah slip biru agar kita bisa ambil surat surat tanpa mengikuti sidang. Tapi saya pikir biarlah ikuti prosedur saja karena, dari hasil browsing di internet, mengikuti prosedur sidang tilang tidaklah rumit. Dan memang di bagian bawah slip ada tulisan bahwa slip merah adalah panggilan untuk sidang di pengadilan dan slip biru adalah untuk mengambil barang bukti. Di kedua slip ini ada tulisan ‘terdakwa’ jadi seharusnya polisi memberikan kedua duanya ketika menilang.

Saya juga tidak habis pikir, darimana polisi Satuan Bayangkara (sabara) Polsek Gambir bisa mendapatkan surat tilang, karena kewenangan melakukan tilang hanyalah Polisi Lalu Lintas (polantas).

Beberapa hari melintas di tkp saya baru melihat ternyata memang lampu pengatur ke arah kiri ada dua buah. Yang pertama diujung jalan Cideng Barat, ini yang mati, dan yang kedua di seberang lampu pertama. Lampu kedua ini menyesatkan karena tidak menghadap ke arah Jatibaru tapi menyerong ke jembatan Tanah Abang II, jadi pengendara pasti berpikir ini lampu pengatur untuk jalur lurus.(ir/wp)

Iklan

3 responses to “Tilang

  1. hehehehehe…percis mas, saya juga pernah ketipu tetapi di bundaran depan indosat

  2. Ping-balik: Sidang Tilang « Indra Riawan

  3. Saya juga pernah mas ditilang karena tidak mempunyai SIM C dan tidak membawa STNK(parah banget)Motor saya dibawa ke polsek Kali deres dan wanti2 dari pilisi tersebut untuk bawa uang dan surat lengkap(kejadian pulul 12 malam), Jam 3 pagi saya balik lg ke posek kalderes dengan membawa uang 30 ribu setelah dipotong biaya ojek dari rumah.Heran saya ketika polisi itu mau memberikan motor saya dengan hanya menerima uang sebesar itu tanpa menanyakan lagi surat kendaraan bermotor tersebut.Apa karena terlalu silau melihat uang 30 rb.(kejadian tahun 1997 yg sampai saat ini masih jelas teringat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s