Jakarta Memilih

Hari ini, untuk pertama kalinya setelah kemerdekaan, rakyat Jakarta memilih langsung gubernurnya. Calon gubernur untuk periode 2007-2012 adalah pasangan Adang Daradjatun dan Dani Anwar yang diajukan oleh partai pemenang pemilu 2004 wilayah DKI Jakarta, Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Belakangan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) juga memberi dukungan. Calon kedua adalah pasangan Fauzi Bowo dan Prijanto yang diusung oleh 20 partai. Beberapa waktu sebelum masa pendaftaran calon, sempat ada calon independen Sarwono Kusuma Atmaja. Namun karena aturan pemilihan pada waktu itu belum mengakomodasi calon gubernur yang tidak diusulkan oleh partai, maka proses pendaftaran calon independen ini ditolak.

Pemilihan gubernur Jakarta kali ini mendapat perhatian yang besar dari media. Tidak kurang media cetak, tv, radio, situs berita, blog yang meliput berita yang terkait dengan pilkada. Jak-TV, sebuah tv komunitas dengan wilayah jangkauan Jakarta dan sekitarnya, sudah menyiapkan sebuah acara khusus ‘Gubernur Kita’ jauh hari sebelum proses pilkada dimulai. Acara yang di pandu oleh Effendy Ghazali dan (awalnya bersama) Wimar Witoelar diklaim merupakan acara dengan rating tertinggi di Jak-TV. Setelah memasuki masa kampaye, Metro-TV menyiarkan acara ‘Today’s Dialogue special Jakarta Memilih’ yang mengulas tiap pasangan calon gubernur. Harian nasional Kompas membuat sebuah section khusus ‘Kandidat’ yang menampilkan calon Adang-Dani dan Foke-Prijanto . Artikel yang dimuat dibuat oleh tim sukses masing masing cagub dan dilengkapi juga dengan analisa psikologis dari Fak Psikologi Universitas Indonesia.

Debat publik juga sering digelar oleh berbagai institusi. Tapi beberapa debat publik ini tidak dihadiri oleh pasangan Foke-Prijanto, sehingga lebih mirip penyampaian misi-visi dari pasangan Adang-Dani. Seminggu menjelang pemilihan, KPUD Jakarta mengadakan debat kandidat yang dihadiri oleh kedua cagub. Dari debat ini nampak bahwa Adang adalah model pemimpin yang pekerja. Setiap pertanyaan dijawab dengan pernyataan yang taktis dan praktis. Sedangkan Dani, calon wakilnya, adalah model pemikir dan pekerja keras. Foke nampak sebagai seorang birokrat sejati. Setiap pertanyaan dijawab dengan sangat diplomatis dan kadang bertele. Sedangkan wakilnya, Prijanto, belum banyak terekspose karena Foke lebih mendominasi dan tidak memberi kesempatan bicara.

Perang spanduk kampanye tidak kalah serunya. Tim sukses Foke-Prijanto mengedepankan keberagaman dan pengalaman Foke di pemerintahan. Karena mereka didukung oleh banyak partai sehingga baliho dan flyier mereka lebih warna warni. Sedangkan tim sukses Adang-Dani, yang menamakan diri relawan oranye, lebih agresif menyerang tema kampanye yang diusung tim lawan. Sehingga tema kampanye lebih mirip sebagai perang kata kata disepanjang jalan di Jakarta.

Hari pemilihan, Rabu 8 Agustus 2007 ditetapkan oleh Depdagri sebagai hari libur khusus untuk wilayah Jakarta. Hanya sektor keuangan, seperti bursa dan perbankan, saja yang masih beraktifitas seperti biasa. Padahal tidak semua pekerja Jakarta tinggal di Jakarta. Belum lagi bisnis yang mempunyai banyak cabang di luar Jakarta, haruskah mereka libur juga? Bagaimana jika cabang di daerah ingin melakukan konsolidasi ke kantor pusat di Jakarta, sedangkan di kantor pusat Jakarta tidak ada seorangpun yang hadir. Tidakkah kebijakan ini dapat menghentikan roda ekonomi secara nasional karena Jakarta adalah pusat ekonomi dan bisnis Indonesia. Kenapa hari pemilihan tidak dipilih Selasa supaya Senin diberikan libur nasional, atau hari Kamis dan liburnya bisa disambung sampai Minggu?

Lembaga survei mengungkapkan, meskipun banyak golput pasangan Foke-Prijanto akan unggul sekitar 51-56%. Tapi suara warga di bilik suara tidak ditentukan oleh presentase survei. Kedua pasangan mempunyai peluang yang sama untuk menang. Apalagi dengan dukungan informasi yang diberikan media cukup melimpah untuk dijadikan pertimbangan warga sebelum menentukan pilihan. Yang pasti, siapapun pasangan yang menang menjadi gubernur harus dapat mewujudkan janji janji mereka selama kampanye. Tidakkah mereka ingat bagaimana antusias masyarakat ketika ikut kampanye. Mereka rela berpanas panas sambil meneriakkan yel yel kemenangan. Hari ini warga rela datang ke tempat pencoblosan untuk memberi suara. Jika setiap pengorbanan warga ini hanya dibalas dengan kinerja yang buruk dan perilaku korupsi, sebaiknya tidak usahlah mencalonkan diri jadi gubernur.

Dan, … Jakarta memilih, … (ir/wp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s